Pisah

jika saja kita bisa menganggap setiap perpisahan seperti melihat kesamping ketika kita sedang berkendaraan. melihat setiap pemandangan dari balik jendela, takjub sebentar dan sudah. tanpa rasa yang menempel, hanya setitik memori saja.
namun, sepertinya hal itu seperti mustahil terjadi. setiap perpisahan tentu menyisakan ingatan akan setiap pertemuan yang terjadi. semakin intens kita bertemu, semakin kuat ingatan tersebut menempel.
dan masing - masing manusia mempunyai caranya masing - masing dalam menyalurkan setiap ingatan masa lalunya tersebut. ada yang dibawa kedalam kesedihan, ada yang membiarkan saja terpendam kedalam tumpukan memori dan ada juga yang sampai menyimpannya di dalam hati.
namun ada juga yang menjadikannya sesuatu yang berguna bagi dirinya, ya…dengan membuat sesuatu yang kreatif akan kenangan masa lalunya tersebut. seperti membuatkan sebuah puisi, lagu atau hal yang lainnya. ia menyalurkan ke dalam bait - bait yang mengalir. mengabarkan kepada dunia tentang kenangan yang ada pada dirinya.

langkah, rezeki, pertemuan, maut sudah ada yang mengatur. kita hanya mejalani dan menerimanya saya. namun tidak dengan lurus-lurus saja. kita di beri kesempatan untuk berpartisipasi dalam menentukan ke-4 ketentuan di atas. kita punya hak dalam memilih. dan setiap pilihan kita sudah ada jalur hikmahnya.

ya…begitulah kehidupan. silih berganti pemandangan yang kita lihat. persis seperti melihat pemandangan dari balik jendela mobil yang sedang melaju.

<Meulaboh; 15 maret 2007>

Leave a Reply